ini sebuah akumulasi dari tekanan emosi yang kecewa
sebuah implikasi dari buramnya prestasi
sebuah kritisi yang mencerminkan kotornya situasi
Sepakbola merupakan industri olahraga yang paling menguntungkan di dunia
tapi yang paling merugikan bagi Indonesia
Tim-tim kehabisan Dana karena Mendagri melarang uang APBD untuk sepakbola
sementara supporter terus mengalami kecewa hingga larut dalam huru hara
di tingkat atas pemegang regulasi, PSSi tertidur terlena
sibuk Hura-hura hasil dari laba kompetisi liga Indonesia
seakan mengikuti trend yang sedang berkembang di negara ini
kalau di kejaksaan ada yang namanya markus,makelar kasus
dan di Departemen Pajak ada marjak,makelar pajak
di sepakbola indonesia ada maskor,makelar skor
yang kerjaannya jual angka untuk memenangkan tim yang punya dana
hingga baunya tercium massa,dan wasit menjadi korban pertama
lemparakan botol aqua,bom molotov, dan teman-temannya yang lain
sudah menjadi ritual yang membudaya
Di tengah euforia piala dunia, PSSI pun meninabobokan kita
dengan mimpi jadi tuan rumah piala dunia 2022
di tengah kritikan media terhadap Nurdin dan kroni-kroninya
PSSi pun melimpahkan buramnya cermin kepada menpora
yang lagi sibuk iklan promosi jadi ketua umum partainya presiden kita
seakan ingin menunjukan keprihatinannya
pemerintahpun membiayai kongres sepakbola nasional di malang
namun sungguh malang hasil kongres sia-sia
nurdin tetap kokoh di posisinya
dan regenerasi PSSi yang diharapkan pun tak tercipta
yang ada kini hanya lagu lama
masyarakat pecinta bola pun kembali kecewa
ditengah demam piala dunia yang semakin terasa
bersama jingle yang hadir di iklan coca cola
yang penuh semangat dan inspirasi
namun terasa mengejek buat negeri ini
inilah alasan mengapa kita mendukung Italia,Perancis,Belanda,Jerman,Brazil dan Argentina di Piala Dunia....
Sebab sang Garuda belum bisa terbang ke Afrika....
Sabtu, 17 April 2010 | Diposting oleh Mochamad Sihab di 00.47 | 0 komentar
Alasan mengapa kita mendukung Eropa dan Amerika Di Piala Dunia
Jumat, 09 April 2010 | Diposting oleh Mochamad Sihab di 20.35 | 0 komentar
Apa Hubungan Mencontek Dengan Koruptor
Ada hal yang lucu sewaktu melaksanakan UTS(ujian tengah semester) beberapa hari yang lalu, ada seorang guru berkata "Kalau kalian mencontek kalian sama saja dengan koruptor".
Kalimat tersebut terasa menggelitik di telinga saya, apa hubungannya mencontek dengan koruptor?
mencontek ya mencontek,
koruptor ya koruptor.
Mencontek adalah suatu perbuatan melihat hasil kerja orang atau meniru karya orang.
Sedangkan koruptor adalah orang yang melakukan perbuatan mengambil hak orang lain(ini pengertian secara halus) atau pencuri(ini pengertian menurut makhluk halus).
Saya tidak mau menilai mencontek itu sesuatu yang benar,
dan saya juga tidak mau membela seorang pencontek karena saya akui mencontek itu sesuatu progres yang mundur buat seseorang, berarti dia tidak percaya dengan kemampuan yang ia miliki.
Tapi sebagai penikmat sastra dan bahasa Indonesia yang baik dan "agak mendingan" saya merasa perlu memberikan interpretasi saya terhadap kalimat yang cukup lucu ini.
Yang saya mau perbaiki disini adalah penggunaan kalimat koruptor yang menurut saya kurang tepat.
Menurut saya kata koruptor tersebut sebaiknya diganti dengan kata kolusi dan nepotisme dan bukan kata korupsi.
karena dalam mencontek butuh kolusi dengan teman dan perlu sedikit nepotisme dan menurut saya terlalu berlebihan kalau mencontek itu disebut korupsi karena sampai saat ini belum ada kasus seorang siswa melaporkan temannya ke polisi karena merasa dirugikan oleh temannya yang mencontek lembar jawaban miliknya. karena hakikatnya mencontek itu dilakukan atas dasar suka sama suka dan atas dasar kemanusiaan.
-KOLUSI
Dalam faidah mencontek, kolusi sangat diperlukan sebelum praktek mencontek dilaksanakan,
dalam tahap ini terjadi bargaining keuntungan, seperti apa saja keuntungan yang didapat seorang pemberi contekan apabila ia menginvestasikan jawaban kepada si pecontek.
-NEPOTISME
Dalam praktek nepotisme yang diperlukan hanyalah tingkat relasi dan tak perlu timbal balik secara langsung.
Biasanya praktek ini digunakan oleh seseorang kepada teman dekatnya atau teman yang sedang mendekat. Dalam praktek ini yang diperlukan seorang pecontek adalah situasi yang kondusif dan posisi yang tepat,
apabila situasi mendukung dan dalam posisi yang pas maka praktek mencontek dapat dilakukan dengan penuh keikhlasan dan dilaksanakan tanpa paksaan dan tekanan.
praktek ini pernah saya alami ketika saya bersimpati melihat teman baik saya kesulitan mengerjakan soal PKN, dengan rela saya membiarkan dia mengambil LJK saya untuk dia salin(ameliorasi mencontek), setelah dia selesai menyalin saya melihat soal yang dia kerjakan adalah soal A dan saya pegang adalah soal B, namun terlambat saya memberi tahu teman saya karena waktu sudah habis.
Jadi mencontek itu bukan sama dengan koruptor,
tapi mencontek itu sama dengan kolusi dan nepotisme.
Sebenarnya ini masalah yang sepele tapi sebagai pengagum Taufik Ismali yang lugas dalam mendobrak paradigma dan sebagai penikmat karya Sutardji Calzoum Bachri yang cerdas dalam bermain dengan taman kata-kata dan sebagai pembaca tulisan KH.Mustofa Bisri yang tanpa berbunga-bunga dalam menulis dan penuh kearifan dalam memandang, saya rasa perlu meluruskan perspektif kita bersama agar tidak terbawa arus latah.
ketika kecil saya masih ingat "awas bahaya laten komunis",
setahun lalu saya dengar "awas bahaya laten korupsi",
nah...kalau sekarang ada "awas bahaya laten mencontek",
itu sangat berlebihan.
Karena mencontek dalam batas-batas tertentu masih dianggap wajar, seperti mencontek PR, menyalin tugas.
Tapi bila mencontek sudah diluar batas-batas tertentu biarlah undang-undang hak cipta yang berbicara,
seperti banyak mahasiswa yang membeli skripsi yang sudah jadi,itu salah satu perilaku yang bodoh dan jangan ditiru.
Demi sebuah hiasan gengsi gelar di depan atau di belakang nama akhirnya menghalalkan segala cara.
Saya hanya ingin berbagi perspektif bukan ingin melakukan suatu propaganda, saya juga tidak mau NATO(no action talk only) seperti yang dilantunkan Godbless di album terbarunya dan saya juga tidak mau mengkritik tanpa solusi tapi saya hanya ingin bertukar interpretasi.